Wednesday, March 2, 2016

Kritik Arsitektur Gedung Kesenian Jakarta

Kritik Arsitektur Gedung Kesenian Jakarta

Bangunan ditengah kota Jakarta ini menjadi perhatian lebih karena muncul dengan desain yang berbeda dengan bangunan sekelilingnya. Bangunan yang terletak persis didepan halte Trans Jakarta Pasar Baroe ini memang memiliki fasad yang sangan klasik. Di sekitaran daerah Jakarta Pusat sendiri memang memiliki banyak bangunan yang memiliki fasad klasik. Namun Gedung Kesenian Jakarta sendiri memiliki perbedaan dari bangunan lainnya.


  



        Bangunan yang selalu dipertahankan bentuk fasadnya sejak awal berdiri. Sehingga terlihat bahwa bangunan ini seperti bangunan lama yang monumental. Jika masuk lebih dalam ternyata lebih terasa bahwa bangunan ini memiliki skala yang monumental. Karena di bagian depan bangunan atau lobby bangunan kita disambut dengan kolom-kolom besar yang menjulang tinggi dan besar.

            Lebih masuk menuju tempat pemeriksaan tiket atau didepan pintu rasa bangunan monumental tersebut sedikit berkurang. Tinggi pintu dan tangga yang dilewati tidak begitu besar seperti kolom-kolom yang ada sebelumnya. Namun setelah masuk kedalam ruang tunggu terasa bangunan ini adalah bangunan lama yang tidak diubah sedikitpun. Jendela yang ada masih dipertahankan sehingga saat kita masuk terasa bahwa bangunan ini adalah bangunan lama yang baik dan indah.

  




            Saat masuk ke dalam bangunan kita diberi dua ruang tunggu di sebelah kanan dan kiri. Semua pembagian terasa sama karena bentuk ruang yang ada sama. Begitu juga detail dan interior yang ada. Namun tidak dengan fasilitas pendukung menuju ruang-ruang servis seperti toilet. Pada bagian kiri bangunan terdapat ramp untuk pengguna kursi roda yang ingin menuju toilet. Namun disebelah kanan bangunan tidak memiliki ramp.

           Ramp yang ada disebelah kiri bangunan jika dilihat lagi sepertinya masih memiliki kekurang dari segi dimensi. Karena ukuran yang tidak sesuai dengan ukuran kursi roda itu sendiri. Selain itu pintu pada toilet sendiri belum dapat mengimbangi ukuran kursi roda. Bukan hanya itu dimensi ruangdan fasilitas lainnya pada bilik toilet tersebut juga masih tidak dapat dikatakan sebagai fasilitas penunjang untuk kaum penyandang disabilitas.

  


           Dapat dikatakan fasilitas yang disediakan untuk pengguna kursi roda hanya sekedar ada. Tidak diperhatikan kembali keamanan dan kenyamanan penggunanya. Atau mungkin karena pengguna Gedung Kesenian Jakarta sendiri tidak terlalu banyak yang pengguna kursi roda sehingga fasilitas tersebut tidak diperhatikan secara lebih seksama.

      Lepas dari itu semua pengelola tetap memperhatikan kenyamanan pengguna didalam ruang pertunjukan itu sendiri. Ruang pertunjukkan yang klasik dapat kita rasakan saat kita memasuki ruang pertunjukkan. Furniture-furniture pendukung seperti lampu dan kolom-kolom yang berbentuk klasik sangat indah terlihat. Perpaduan warna merah dan material kayu dengan beberapa ukiran terasa lebih untuk bangunan klasik. Susunan bangku dengan beberapa berada diatas podium menambahkan rasa bangunan tersebut merupakan bangunan klasik Belanda.

       Ruang pertunjukkan yang tidak memuat banyak orang didalamnya membuat kita sebagai pengunjung atau penonton dapat lebih menikmati lebih dekat pertunjukan yang ada. Setelah masuk kedalam ruang pertunjukan tersebut terasa seperti masuk kedalam gedung pertunjukkan klasik yang berada diluar negeri. Saat pertunjukkan mulaupun suara dan cahaya yang ada sangat baik. Suara yang ada dapat terdengar jelas walau kita duduk dibelakang atau bahkan di bangku podium diatas.

  





         Untuk fasilitas penunjang seperti kantin, musholah dan kantor menejemen berada diluar gedung pertunjukkan. Untuk kantor menejemen gedung masih sama dengan gedung pertunjukkannya yaitu dengan konsep klasik pada bangunannya. Pintu kaca model lama digunakan pada kantor menejemen. Selain itu lantai yang digunakan juga lantai tegel model lama. Namun berbeda dengan gedung pertunjukkan dan kantor menejen mushola dan kantin adalah ruang tambahan yang baru ada beberapa tahun belakang. Bentuknya sudah terkena konsep modern.

No comments:

Post a Comment